Friday, April 14, 2017

Prosesi Upacara Pernikahan Adat Solo

Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa
Prosesi Upacara Pernikahan Adat Solo - Upacara Pernikahan Adat Solo memiliki ritual yang sangat panjang dan membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni sekitar satu minggu. Upacara adat ini dilakukan pada pengantin berdarah biru dan keturunan ningrat. Akan tetapi saat ini banyak juga yang melakukan prosesi upacara pernikahan adat Solo meskipun pengantinnya tidak keturunan ningrat, hanya kerna semata-mata ingin nguri-uri kebudayaan Jawa. (baca : Urutan Pernikahan Adat Sunda)

Upacara Pernikahan Adat Surakarta ada yang dimulai dengan acara Rasulan, yaitu pembacaan doa, memohon ijin pada arwah yang telah mendahului supaya tidak mengganggu sehingga acara dapat berjalan lancar. Akan tetapi ada juga yang meleati tahap Rosulan ini. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tenda atau tratag yang memiliki makna agar rumah menjadi lebar, serta acara pemasangan Bleketepe atau Tuwuhan yang menandakan tuan rumah sedang mengadakan hajatan.

Siraman
Prosesi siraman adalah rangkain pertama dari pernikahan adat Solo, Siraman adalah acara yang dilakukan oleh kedua mempelai baik wanita maupun pria secara bersama-sama di tempat terpisah. Maksud dari acara ini adalah agar kedua calon mempelai benar-benar bersih dari segala hal dan siap mengarungi bahtera rumah tangga.

Air yang diambil untuk siraman berasal dari tujuh sumber mata air. Yang melakukan siraman kepada kedua mempelai adalah orang tua, eyang putri serta para sepuh yang berjumlah ganjil.

Sebelum acara siraman dilakukan, calon mempelai wanita melakukan sungkeman kepada orang tua serta eyang putri yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan pesingan atau popokan yang berwujud sepasang bahan pakaian atau kain dan bahan kebaya.

Setelah siraman dilakukan, biasanya calon mempelai wanita digendong atau diapit orang tuanya menuju kamar pengantin. Setelah mempelai wanita membersihkan diri, orang tua memotong rambut calon mempelai yang kemudian ditempatkan di bokor kecil.

Acara selanjutnya dari prosesi Upacara Pernikahan Adat Surakarta ini  adalah pembagian kreweng kepada para tamu dimana kedua orang tua calon mempelai wanita melakukan acara Dodol Dawet | Jual Dawet yang bermakna agar banyak tamu yang bertandang ke rumah pengantin untuk memberikan doa restu.

Setelah itu dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dimana potongan tumpeng tersebut akan disuapi kepada calon mempelai wanita oleh kedua orang tua sebanyak tiga suapan secara bergantian. Berikutnya dilakukan penanaman potongan rambut kedua calon mempelai.

Midodareni atau Seserahan
Acara midodareni adalah acara perkenalan antara keluarga kedua belah pihak yang dilakukan pada malam sebelum akad nikah. Calon mempelai meminta doa kepada 11 orang ulama supaya diberkati.

Midodareni diyakini sebagai turunnya bidadari yang mempunyai makna supaya pengantin secantik bidadari. Orang tua calon mempelai wanita memberikan kancing gelung kepada calon mempelai pria untuk dipakai pada akad nikah. Kemudian dilanjutkan dengan acara mejemukan, yaitu pertanyaan orang tua wanita kepada calon mempelai.

Akad Nikah
Saat melakukan akad nikah, calon mempelai pria datang ke kediaman calon mempelai wanita dengan cara menunggang kuda dari rumah singgah yang dikawal oleh prajurit kraton sebanyak 21 prajurit yang menggunakan pedang dengan diiringi oleh suara gamelan dan tambur untuk mengatur gerak langkah prajurit yang mengawal raja sehari.

Pada upacara adat Kraton Surakarta Hadiningrat, saat hijab kabul kedua mempelai tidak duduk bersama. Pelaksanaan hijab kabul hanya dilakukan oleh calon mempelai pria yang menyerahkan mas kawin seperti uang, emas dan seperangkat alat sholat yang disaksikan oleh ayah serta wali, petugas KUA dan penghulu dari Kraton. (baca : Cara Mengurus Surat Nikah di KUA)

Sebelum akad nikah dimulai, orang tua mempelai wanita mendatangi kamar putrinya karena sang calon mempelai bermaksud meminta ijin menikah kepada orang tuanya. Busana yang dikenakan oleh calon mempelai adalah Dodot Kampuh Bango Buta yang berasal dari Kraton Surakarta Hadiningrat.

Panggih
Setelah acara akad nikah selesai dilanjutkan dengan upacara Panggih. Kedua mempelai menuju tempat panggih secara perlahan-lahan dan saling melempar sirih yang diarahkan ke dada masing-masing mempelai.

Barikutnya dilakukan acara Injak Wiji Dadi atau Injak Telur. Mempelai pria menginjak telur yang telah disediakan kemudian mempelai wanita membersihkan kakinya yang melambangkan kesetiaan seorang istri terhadap suaminya.

Setelah itu ayah mempelai wanita meletakkan kain sindur di punggung kedua mempelai menuju krobongan. Di dalam krobongan, kedua mempelai dan kedua orang tua melepaskan selopnya serta berjalan berjongkok.

Selanjutnya dilakukan acara Timbang atau Pangkon dimana mempelai pria duduk di paha sebelah kiri dan mempelai wanita duduk di paha sebelah kanan sang ayah dari mempelai wanita. Makna acara ini adalah orang tua tidak membedakan anak dan menantu.

Berikutnya adalah acara Tandur dimana ayah mempelai wanita memegang bahu kanan mempelai pria dan bahu kiri mempelai wanita untuk kemudian mendudukkan keduanya dan berduduk sila. Kemudian dilanjutkan dengan mencicipi rujak sebanyak tiga sendok.

Upacara Pernikahan Adat Solo selanjutnya adalah dilakukan acara Kacar-Kucur dimana mempelai pria menuangkan guna kaya ke atas sindur yang dipangku mempelai wanita. Maksudnya adalah dalam kehidupan berumah tangga, tugas suami adalah memberi nafkah kepada istri.

Acara berikutnya dari Upacara Pernikahan Solo adalah Dhahar Klimah, yaitu kedua mempelai saling menyuapi masing-masing tiga kepal nasi punar. Setelah itu kedua mempelai membersihkan tangan masing-masing dan dilanjutkan dengan minum air putih. Maknanya agar kedua mempelai senantiasa hidup rukun, saling tolong menolong dan saling mencintai.

Selanjutnya dilakukan acara Tilik Pitik yang menjemput besan di pintu masuk untuk diantar ke pelaminan dan dipersilahkan duduk di sebelah kedua mempelai dan dilanjutkan dengan sungkeman di dalam krobongan kepada kedua orang tua mempelai wanita dan pria. Acara diakhiri dengan pemberian ucapan selamat dan doa retu kepada mempelai dan orang tua.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Prosesi Upacara Pernikahan Adat Solo

0 komentar:

Post a Comment